Hidup itu penuh perjuangan!

Aku dan: Vivaldi

Aku dan: Vivaldi

How it's begin? Ini berawal dari masa PPDB mendramatis gue 2k16. Sebelum PPDB sudah menjadi ritual gue untuk stalking serba-serbi 3 sekolah tugu, dan ternyata ada salah seorang yang menarik hati gue untuk nge-stalk IG-nya karena postingannya banyak mengenai sekolah gue saat ini. Itulah kali pertamanya gue melihat wajahnya. Sebut saja Vivaldi (bukan Vivaldi pemain biola). Disaat PPDB yang bikin gue nangis sepanjang jalan pulang karena daftar di sekolah yang bukan hati gue mau tapi otak gue dan yang rasional dan nilai yang kurang 0,2 tidak memungkinkan agar sesuai hati  online gue memilih operator yang tengah namun seseorang memberitahuku agar memverifikasi di operator yang pojok saja. Tentu saja gue geser ke operator itu. Ramah, senyum terus sampai bikin merinding, familiar, tapi siapa? Menenangkan gue disaat tepat di titik hiposentrum di hidup gue, sekaligus yang bikin gue dimarahin Pak Waka Sarpras karena ngecek urutan PPDB padahal anak sebelum gue tadi nggak dicek, OK! Disaat itu gue pikir dia anak SMK magang karena gue teringat ada saudara gue yang tetep magang meski waktu liburan.

Singkat cerita entah kenapa gue sering berpapasan, sampai mencapai titik dimana gue merasa tertarik dengan-nya untuk berkenalan karena di SMP gue diajari guru untuk memberi salam dan harus kenal semua guru dan karyawan(tertarik bukan berarti suka, tau sendiri sifat gue kepo akut). Disaat itu pelajaran Wirausaha dimana sedang belajar bercocok tanam, nah kesempatan modus datang yaitu dengan cara bermodus mengambil sebuah larutan bernama klerek di lab. Woah tidak disangka, ada dia. Kebetulan disitu juga ada Bu Dewi yang menanyakan KTI-ku yang tidak kunjung tidak muncul wujudnya.

"Kamu klo kelamaan pinusmu dimakan tikus semua lho." timpal Bu Dewi, "Lho masak sih bu?" jawab gue gapercaya,"Iya makanya cepetan dikerjakan." gertak Bu Dewi, "Oiya sekalian tikusnya tangkepen" "Loh buat apa, bu?" terus terang gue kaget, "Ya biar pinusnya ga dimakan tikus."
Gue dengan polosnya cuma bisa manggut-manggut percaya. Setelah itu gue inisiatif untuk salim kepada semua orang disitu, termasuk Vivaldi. Oh god! Ini tangan apaan halus banget, serasa ngelus kayu baru dihalusin, gue yang cewe terus terang kaget. Setelah pelajaran usai, gue modus lagi. Sendirian disana dia lagi berdiri entah ngapain, trus gue bilang dari balik pintu seperti seekor kucing mengintip tikus.

"Pak, klereknya tak kembalikan ya." gue langsung cabut

Setelah berjalan dua langkah dari pintu lab gue keingetan keadaan pinus gue yang naas dan berinisiatif menangkap tikus di lab. Gue berjalan menghampirinya dan menanyakan keberadaan tikus.


"Pak tikusnya dimana ya?" "Tikus apa? Masak ada tikus disini" jawab ia dengan senyuman khasnya, "Loh kata Bu Dewi ada tikus" "Ngga mungkin ah ada tikus disini" "Loh pak ini wadahnya mana kok jadi kresek?" "Loh nggak tauuuu"

Berulang kali gue bertanya dengan pertanyaan yang sama karena gue masih ingat di SMP gue ada tikus yang pernah seliweran di lab, jadi gue simpulkan mungkin juga ada tikus disini. Berdua di lab ditambah suasana aneh membuat gue agak kurang nyaman, akhirnya gue buru-buru cabut dan keburu badmood karena wadah pinus gue itu disulap menjadi kresek cantik. Ada suatu alasan gue bawa pinus dengan wadah agak classy. Sebelumnya gue disarankan pakai karung sama temen kelompok gue yang cowok semua, mereka ga mikir apa ya ntar gue disangka ngapain bawa karung ke sekolah.

Back to topic, sejak hari itu gue makin ingin kenalan lebih. Hari itu ekstra KIR ada pesta kentang ber-Fe, dimana tetep gue embat meski rasanya agak aneh karena digoreng dengan minyak berwarna kehitaman dan peran saringan disubstitusi tisu, at least laper gue berkurang. Disaat Sifa datang, Vivaldi ternyata tau nama Sifa, heran gue. Sebenarnya gue tau nama Vivaldi dari IG nya, cuman karena dia gapernah ngenalin diri ya gapernah gue sapa dengan namanya ntar ketauan dong gue sering stalking.

Hari berlalu gue dibikin super ngga nyaman di sekolah, senyumnya terlalu ramah. Pernah gue pingin berpapasan dan beralibi ingin ke kantin. Gue pura-pura galiat kedepan dan dengan motornya dia hampir nabrak gue. OK.

"Mau kemana?" sekali lagi dengan senyuman khasnya itu. "Umm mau ke kantin" 
Sesaat gue sudah melewatinya Vivaldi menoleh dan senyum lagi, lama. Gue berfikir apakah penampilan gue seperti Godzila gila kuadrat? Ya gue sadar juga penampilan gue acak-acakan, serba kegedean semua( gue suka barang yang kegedean), mata sembab hasil begadang dll. Satu hal yang masih gue ingat sampai sekarang,hati gue maratonan for the first time for real?!

Nggak cuma di parkiran aja, ga sengaja saat gue di perpus Vivaldi nimbrung di bagian peminjaman. Ok fix gue nyesel nggak nglama-nglamain.

"Loh itu foto cowo..." celetuknya ,"Ah sorry a ini fotoku pas SMP" (dalam bahasa jawa)

Keluar dari perpus gue pasang muka se-awkwkard mungkin. Aduh sejak kapan gue ngomong ke orang jadi bahasa jawa. Salting. Sejak saat itu gue makin gugup kalau berpapasan, tapi ribetnya gue pingin lihat mulu. Entah kenapa kalau berpapasan apalagi kalau gue lagi sendirian, gue memanfaatkan beberapa media seperti buku atau paling mudah adalah lantai sebagai alibi tidak menyadari kehadirannya.

Minggu ini saja gue sering berpapasan, dalam sehari bisa saja 3x, terang saja kami berada di ruangan yang bersebelahan. Makin bikin gue gugup. Gugup kubik.

Ugh, this kind of feeling! I hate this but I love this. Huft.

Assalamualaikum
Monggo :D