Skip to main content

Kemanaku Melangkah?

04/02/18 23.02
Hari ini kutuliskan salah satu curahan hatiku. Hari ini juga adalah hari dimana aku duduk di kelas 11. Setahun lagi mungkin aku orang yang beda, mungkin tidak. Setaun lagi aku menduduki kelas 12, kelas terakhir dalam masa sekolah, tidak kusangka waktu secepat itu, secepat melayangkan daun dari rantingnya, entah kemana. Secepat air menguap bahkan pandangan kita luput darinya.

Aku sangat bingung untuk menentukan langkahku. Langkahku hari ini adalah cerminan langkahku di masa depan. Mungkin terlalu cheesy untuk dikatakan. Tapi inilah isi hatiku. Aku sangat bingung diantara banyak pilihan yang ada. Aku bingung untuk menentukan apakah jurusan kuliahku nanti. Sebenarnya mungkin ada pilihan untuk tidak kuliah, ah tapi tidak. Aku ingin belajar lebih banyak.

Aku bukanlah orang sejenius Enstein, tapi aku bukanlah orang yang mudah menyerah. Sebenarnya aku bingung antara konsep membatasi diri dan batasan diri. Kembali lagi, aku seringkali tidak percaya diri dengan diriku sendiri. Dulunya sebelum mengikuti perlombaan yang mengharuskan presentasi di hadapan banyak orang aku sangat takut. Gemetaran. Tapi sekarang tidak, aku bukanlah aku yang pemalu dulu, aku sekarang berani menyampaikan sesuatu di depan, aku sekarang tidak gemetaran saat harus berbicara di depan umum, mungkin kadang-kadang tapi tidak separah dulu. Hatiku tenang sekarang. Mungkin itu adalah salah satu dari ratusan batasan yang aku pecahkan.

Semasa SD aku sangat ragu untuk mendapat peringkat nilai 10 besar UN terbaik. Aku ini hanyalah anak kelas rangking B atas, tidak pernah masuk kelas rangking A, dimana berisi anak-anak yang notabene les mahal-mahal di luar sekolah juga jenius. Aku hanya aku yang belajar dari bimbel sekolah dan belajar sendiri dengan di rumah. Ternyata tuhan berkata lain, aku mendapatkan peringkat UN terbaik se sekolah ke 7. Aku kaget sekali, bukan karena nilaiku menjadi salah satu dari tertinggi, tapi karena aku dapat menyaingi teman-temanku. Saat wisuda pun aku dapat merasakan tatapan orang lain, kenapa bisa. Aku juga ragu untuk masuk ke SMP mana, pikiranku saat itu SMP 5, dimana bila aku masuk peringkatku dalam PPDB akan diatas permukaan, namun kalau di SMP 3 aku tenggelam karena nilaiku saat kelas 5 jeblok gara-gara aku sepulang sekolah main game online yang lagi ngetren itu, sampai-sampai aku dimarahi, akhirnya aku dapat mengejar nilai di kelas 6. Ternyata dengan keberanian ibu aku bisa merasakan sekolah di SMP 3. Di SMP inilah aku makin jatuh cinta untuk menulis. Saat wisuda SMP aku maju bukan hanya sekedar untuk bersalaman dengan kepala sekolah, tapi tidak kusangka aku dipanggil yang kupikir hanya gara-gara menang lomba LKTI se-Kota Malang 1x itu saja. Tapi tidak kusangka efek semangatnya kurasakan sampai sekarang.

Daftar SMA sebenarnya aku ingin SMA 3, tapi tuhan berkata lain, karena nilai UN ku tidak bagus-bagus sekali sehingga aku masuk SMA 1 walaupun di SMA 1 aku peringkat 1 dengan jalur prestasi, aku tetap kecewa. Aku sebal sekali, temanku yang nilainya jauh dibawaku bisa masuk SMA 3 dengan jalur wilayah, tapi mungkin kembali lagi itu takdir. Sebenarnya saat SMA aku ingin menjadi bagian dari OSIS, tapi aku terlalu takut, takut untuk tidak lolos seleksi pertama. Dasar penakut, hanya karena dulu aku juga pernah ikut seleksi OSIS SMP tapi seleksi pertamanya saja tidak lolos, mungkin karena aku tidak ada strategi atau mungkin aku memang tidak cocok untuk menjadi salah satu dari mereka. Kembali lagi ke konsep pembatasan diri. Awal-awal di SMA ini aku sangat tidak cocok, mulai dari tata tertib yang sangat ketat sekali, memangnya ini sekolah militer atau apa. Kembali lagi, mungkin Tuhan ingin aku mendisiplinkan diri di sekolah ini. Sekarang aku tidak menyesal untuk sekolah disini, sekarang aku berfikir bagaimana aku bisa memanfaatkan sekolah ini dengan baik, aku mendapatkan bimbingan dari Bu Dewi yang ternyata beliau adalah juri lomba saat aku SMP. Masa inilah aku menempa diriku untuk menjadi mental baja, bukan mental tempe. Sekarang aku sadar kalau nama SMA bukanlah segalanya, memang air akan mengikuti wadahnya, tetapi airnya lah yang menenetukan kualitasnya, air tuba atau air apa?

ARKEOLOGI
Aku sempat ditanya mau melanjutkan kuliah kemana. Dulu aku jawab aku tidak tau, masih belum ada pandangan. Tetapi sekarang aku berani menjawab ingin ke Fakultasi Geologi. Sebenarnya saat SMP aku sudah pandangan untuk masuk ke Arkeologi UGM, karena arkeologi hanya menerima anak MIPA, oleh karena itu aku memilih MIPA. Kenapa arkeologi? Mungkin hanya karena aku sangat menyukai sejarah, bahkan dari kecil kata ibuku aku menyukai bacaan sejarah, di SD juga aku sadar menyukai membaca ensiklopedia sejarah yunani, tetapi tidak pernah hafal, itulah yang meragukanku. Aku menyadari nilai sejarahku saat SMP dan SMA biasanya lebih tinggi dari yang lain, tetapi tidak dengan SD, di SD kita dituntut untuk menghafal tahun dan nama, oh itu sangat membuat otakku panas. Juga guru PAIku entah kenapa saat itu bertanya apakah ada yang suka sejarah, beliau menyarankanku untuk masuk S1 Arkeologi UGM kemudian lanjut ke S2 Arkelologi luar negeri. Kemudian timbul pertanyaanku sekarang, aku ingin kaya, apakah arkeologi dapat membuatku kaya? Mungkin aku terlalu materialistis, tapi oh cobalah kita realistis. Mungkin kalau aku berkebangsaan luar negeri, khususnya Inggris yang menghargai arkeolog, aku tidak akan ragu.

PERTAMBANGAN, GEOLOGI
Saat kelas 9 salah satu kakakku mengikuti PKL di Cepu, kalau tidak salah, salah satu tempat pertambangan. Katanya kalau di Pertamina gajinya besar. Saat itu juga aku mengatakan ingin kuliah di pertambangan. Sekarang aku kembali ragu, awalnya aku ingin FTTM ITB, tapi aku sadar kalau banyak sekali pesaing di luar sana yang sudah belajar jauh-jauh hari dan les berjuta uang, aku juga sadar kalau mungkin aku tidak terlalu pintar seperti Mery yang giat belajar, apalagi ia sering dipuji oleh guru dan membuatku makin merasa bodoh saja. Meskipun semester 3 ini aku mendapatkan peingkat ke 6 sekelas tapi tetap saja aku masih minder dengan kemampuanku ini. Akhirnya aku mencari-cari jurusan apa selain pertambangan yang bisa membawaku kerja di pertambangan. Aku menemukan bahwa ada jurusan Geologi dan Geofisika. Peminatnya sedikit katanya, tapi prospeknya besar sekali. Kemudian dari hasil berselancar di kakek Google, aku menemukan bahwa ada UPN Veteran Jogjakarta, UGM, dan UNPAD yang memiliki jurusan mirip pertambangan yang tidak kalah bagus. Namun entah kenapa gue merasa gue ga sanggup.

KEDOKTERAN GIGI



Selanjutnya kedokteran gigi, kenapa? Karena gue sudah 2x mengikuti lomba KTI FKG UNEJ dan UNAIR. Merasa dikelilingi dokter dan calon dokter gigi membuat gue ingin menjadi salah satu dari mereka. Kedokteran adalah satu jurusan yang peminatnya banyak sekali, meskipun katanya biayanya mahal. Awalnya aku sangat tidak tertarik untuk masuk ke kedokteran apalagi fokus ke gigi, apalagi udah masuknya susah, lama juga kuliahnya 7 tahun. Sebenarnya sepanjang hidup, aku seringkali ke dokter gigi, bukan untuk cek kesehatan, tapi karena sakit gigi. Aku semakin tertarik apalagi saat salah satu juri menyarankanku untuk masuk ke FKG aja, entah kenapa beliau tiba2 tanya kelas berapa, dan pada intinya ingin memasukkan gue ke FKG, gue tanggapi beliau bercanda, lah si bapak juri tidak ketawa, semacam serius. Hal ini semacam memberiku cambukan untuk masuk ke FKG. Tapi kembali lagi aku sangat gayakin, karena pejuang kedokteran yang lain sa-sangat gila banyaknya.

Dari paparan diatas, apakah ada orang yang merasakan kegilaan di otak mereka sepertiku ini? Aku sangat ragu. Meskipun sering mendengar motivasi semacam orang yang tidak les, tapi belajar keras sendiri bisa masuk FTTM ITB dan Kedokteran tetap saja semacam ada batas yang ingin kuhancurkan tetapi aku masih ragu. Menurut kalian sebaiknya aku memilih jurusan apa?

Update: 05/03/18 23.02
Sebulan setelah gue menuliskan tulisan ini, gue mulai kembali ke fase ragu lagi, entah kenapa. Kenapa? Pada sebulan terakhir ini gue tela menyiapkan berbagai planning untuk SBMPTN tahun depan. Karena lebih baik mendaftar banyak. Nah gue telah memutuskan 1000 planning, mulai planning A sampai Z. Inilai rencana awal gue.

SNMPTN: 1. Kehutanan IPB, 2. Geomatika ITS
SBMPTN: 1. FTTM, 2. Geologi UGM, 3. Geomatika ITS 
UTUL UGM: 1. Geologi, 2. Geofisika, 3 Geomatika
UTM IPB: 1. Teknik Sipil Lingkungan, 2. Arsitektur Lanskap

Terlihat disini gue menempatkan ITS dipilihan terakhir, kenapa? Karena gue suka menulis dan ikut lomba dan gue takut kalau lingkungan gue gak mendukung untuk itu, tentu saja gue gak ragu dengan kualitas ITS. 
Semakin gue merenung, gue berasa kalau sepertinya gue lebih suka yang nature tapi yang biologinya, akhirnya gue memutuskan untuk UTM IPB gue ubah jadi gini: 1. Kedokteran Hewan, 2. Kehutanan. Flashback aja, saat SD dan SMP dulu gue sering ngliatin postingan di Facebook tentang berbau hewan, sampai akhirnya gue jadi admin Fanpage Dunia Hewan, kebayang gak? Gue juga mulai suka Biologi karena ga melulu hafalan guys, jadi lebih enjoy aja. #Efek dapet 96 di ulangan Pembelahan sel hahaha.

Nah disisi lain gini guys, bukannya mau sombong tapi katanya temen2 gue pinter di fisika, ya itu awal2 semester gue hampir gapernah remidi saat gurunya Bu Agnes mungkin karen gue enjoy gitu ya. Semenjak saat gurunya Pak Yogi gue berasa bodoh gitu, tempo pelajaran yang cepet, remeda-remidi mulu, palingan dari 10 bab, 5 remidi, tapi entah kenapa PAS ga remidi hihi, bahkan nilai gue lebih dari anak yang cerdas dan les. Remidi-remidi itu membuat courage gua jadi turun. Gue berfikir apakah bener gue akan tertarik mempelajari kalkulus yang tebelnya sebuku kitab karangan Mpu Tantular? Itupun satu seri doang. Nah lebih tepatnya, apa gue kuat? Gue sih kuat2 aja kalau belajar keras banget.

Gue juga bingung nih UN mau pilih apa, kalau Biologi gue takutnya karena kebanyakan milih Bio, dengan guru yang tinggal 3, sepertinya juga tahun depan ada yang pensiun jadinya tinggal 2 guru, ntar gurunya capek akhirnya gafokus gitu, gimana ya, yagitu deh, trus juga kalau misalkan lupa-yaudah. Kalau fisika balik lagi di materi perlistrikan dan gelombang gue agak gimana gitu, tapi kalau misalkan gabisa-bisa balik ke konsep awal, nurunin rumus. Kalau kimia? Ga tertarik hehe maaf nih.

Sebenarnya gue juga pingin gabung LIPI, LIPI  itu sebuah lembaga penilitian. Ajib gak sih? Oiya menurut gue, gue anaknya itu seneng banget nganalisis daripada ngitung-ngitung rumus seambrek gitu. Mungkin lebih tepatnya gue mau kok ngitung, tapi ya jangan ribet2 gitu. Nah bingung kan, gue juga bingung. Semoga kedepannya gue udah ada perencanaan yang lebih mantap, percaya diri, dan direstui Allah, Aamiin.

Comments